PERJUMPAAN KESEMBILAN MATA KULIAH FILSAFAT ISLAM

 Ikhwan Al Safa

Pertemuan kesembilan Jurnalistik kelas III C yang di ampu oleh Drs. Study Rizal LK., M.ag membahas beberapa hal mulai dari presentasi kelompok 7 dengan tema pemikiran filsafat Ikhwan al-Safa.

Ikhwan as-Shafa adalah sebuah perkumpulan rahasia yang bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan di tengah-tengah komunitas Sunni pada sekitar abad ke-4 Hijriah atau 10 Masehi di Bashrah.


Asas utama perkumpulan ini adalah persaudaraan yang tulus dan ikhlas, kesetia kawanan yang suci, murni, serta saling menasehati antara sesama anggota dalam menuju Ridha Ilahi.


Pelopor utama gerakan ikhwan as Safa adalah Zayd Ibn Rifa’ah pada tahun 340 H / 951 M. Karena kecenderungan politik pada saat itu, gerakan kelompok ikhwan as Safa baru terungkap pada masa kekuasaan Dinasti Buwaihi di Baghdad pada tahun 983 M.


Karya Ikhwan As-Shafa


Ikhwan As-Shafa menghasilkan karya tulis sebanyak 52 risalah yang dinamakan Rasa’il Ikhwan As-Shafa’. Karya-karya ini merupakan ensiklopedia populer tentang ilmu dan filsafat yang ada pada waktu itu. Ditinjau dari segi isi, Rasa’il ini dapat diklasifikasi menjadi empat bidang :


1. 14 Risalah tentang Matematika


Risalah ini mencakup Geometri, Astronomi, Music, Geogravi, Seni, Model dan Logika.


2. 17 Risalah tentang Fisika dan Ilmu Alam


Risalah ini mencakup Geoneologi, Mineralogy, Botani, hidup dan matinya Alam, senang sakitnya Alam, keterbatasan manusia dan kemampuan kesadaran.


3. 10 Risalah tentang Ilmu Jiwa


Risalah ini mencakup Metafisika, Phytagoreanisme, dan kebangkitan Alam.


4. Risalah tentang Ilmu-Ilmu Ketuhanan


Risalah ini meliputi kepercayaan dan keyakinan hubungan alam dengan Allah, Aqidah mereka, ke Nabian dan keadaannya tindakan Rohani, bentuk konstitusi politik, kekuasaan Allah, Magic dan Azimar.


Pemikiran Ikhwan al-Safa Tentang Ketuhanan dan Jiwa Manusia


1. Tentang ketuhanan


Ikhwan al-Safa pemikirannya berlandaskan pada bilangan. Menurut mereka, ilmu bilangan ialah lidah yang mempercakapkan kepada tauhid, al-tanzih, meniadakan sifat dan tasybih. serta menolak sikap orang yang mengingkari keesaan Tuhan.Maka pengetahuan terhadap angka membawa kepada pengakuan tentang keesaan Tuhan, karena apabila angka satu rusak, maka rusaklah semuanya.


2. Tentang penciptaan alam


pemikiran Ikhwan al-Safaini merupakan perpaduan antara pemikiran Aristoteles, Plotunis, dan Mutakallimin. Menurut mereka Tuhan adalah maha pencipta dan maha Esa. melalui kemauannya, Tuhan menciptakan sebuah akal aktif atau akal pertama secara proses emanasi. Jadi, apabila Tuhan qadim dan baqi, maka akal pertama pun demikian halnya. Dalam akal pertama, lengkap terdapat segala potensi yang akan muncul pada wujud selanjutnya. Maka, secara tidak langsung Tuhan melakukan hubungan dengan alam materi, sehingga kemurnian dari ajaran tauhid dapat terjaga dengan baik. Berikut ini adalah proses emanasi yaitu Akal aktif atau akal pertama, Jiwa universal, Materi pertama, Potensi dari jiwa universal, Materi kedua atau materi absolut, Alam dari planet-planet, Anasir-anasir alam terendah, seperti udara, air, api, dan tanah., dan Materi gabungan yang terdiri dari tumbuh-tumbuhan, mineral, dan hewan.


Proses Penciptaan Secara Emanasi Menurut al-Safa Dibagi Menjadi 2 Macam:


Penciptaan sekaligus, yang dimana terdapat dalam alam rohani, yaitu akal aktif, jiwa universal dan materi pertama


Penciptaan gradual, dimana terdapat dalam jasmani, yaitu jism mutlak dan seterusnya, serta alam semesta yang memiliki awal dan akan berakhir di masa tertentu..


3. Tentang jiwa manusia 


Jiwa seorang manusia bersumber dari jiwa Universal. Pertumbuhan dan perkembangan dari jiwa manusia dipengaruhi langsung oleh sebuah materi disekelilingnya. Jiwa dibantu oleh akal, agar potensi jiwa itu tidak kecewa dalam perkembangannya.


4. Tentang moral


Ikhwan al-Safa memiliki sifat rasionalistis. Utnuk mencapai sebuah moral, manusia harus melepas diri dari sebuah ketergantungan terhadap sebuah materi. Manusia harus bisa memupuk rasa kasih dan cinta untuk mencapai pada keadaan diluar kesadaran diri. Percaya tanpa melakukan usaha, dan mengetahui tanpa melakukan sesuatu adalah sia-sia. Kesabaran, kasih sayang, ketabahan, kelembutan dan kehalusan keadilan, gemar berkorban terhadap orang lain, mengutamakan kebajikan rasa syukur yang kesemuannya harus dapat menjadi sebuah karakteristik pribadi. Dan sebaliknya, kemunafikan, bahasa kasar, kezaliman, kepalsuan, dan penipuan harus di hilangkan agar muncul perasaan yang suci, kecintaan terhadap sesama, dan keramahan terhadap lingkungan sekitar.

Nama: Mohamad Alfarizi

NIM: 11210511000131

JURNALISTIK 3 C



Komentar